Pages

Senin, 04 April 2011

Cerpen Bahasa Indonesia


Diantara Belahan Jiwa dan Raga
Ketiga sahabat itu memanglah sangat-sangat tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Arman, Ardi, dan Dani. Mereka bertiga seperti raga yang telah diciptakan khusus oleh tuhan Yang Maha Kuasa. Di mulai dari Sekolah Dasar, mereka bersama-sama, meskipun pernah terjadi pertengkaran diantara mereka, tapi semua itu segera berakhir. “Ardi, bolehkah aku meminjam mainan robot-robotanmu itu?” tanya Dani. “ Tidak, kau tidak boleh meminjam mainanku ini, ini adalah barang berharga satu-satunya milikku!” ,teriak Ardi. “Tapi aku ingin memainkannya sebentar robot-robotan kayu milikmu itu cuma sebentar saja.” ,paksa Dani. “Tidak boleh, sekali tidak tetap TIDAK.” ,Ardi marah besar kepada Dani. “ Cuma sebentar saja.” ,dengan penuh paksaan terhadap Ardi.
Akhirnya Ardi memberikan mainan robot-robotan yang terbuat dari kayu itu kepada Dani. Dani memainkan robot-robotan itu dengan sambil lari-lari, tiba-tiba ada batu, dan dia terjatuh karena telah tersandung batu itu. Robot-robotannya itu rusak total. Tidak satu puing pun yang tersisa untuk bias diperbaiki.
Ardi tentu saja sangat-sangat marah besar kepadanya, karena robot-robotan itu adalah pemberian almarhum ayahnya. Sudah meminjam secara paksa, kemudian merusaknya. Terjadilah pertengkaran disitu antara Ardi dan Dani, mereka hampir saja bertengkar secara tidak sadar, dan hampir saja pukul-pukulan mereka akan mengakibatkan darah tubuh mereka sendiri keluar. Akhirnya Arman melerai mereka, Ardi hanya bisa menangis bukan dalam artian cengeng atau apa-apa. Karena dia ingat kalau Dani itu merupakan sahabat terbaik, dan tidak akan pernah melukainya lagi.
Setelah dua minggu mereka berdiam-diaman terus, dan Arman sebagai orang yang netral diantara mereka. Setelah beberapa kali Arman menasihati Dani karena sifat kesombongannya dan sifat cueknya itu, kebal sekali dia dinasehati, setelah berhasil mendengarkan perkataan Arman yang sangat mengetuk hati akhirnya Dani minta maaf kepada Ardi. Dan mereka pun saling bermaafan antara satu sama lain, meskipun dalam lubuk hati terdalam Ardi masih ada rasa kesal, marah, dan tidak karuan, tetapi dia harus melupakannya, karena nasi telah menjadi bubur. Tidak akan bisa kembali lagi menjadi baik. Untung saja Ardi berpikiran dewasa meskipun dia baru kelas 4 SD sama seperti halnya Dani dan Arman.
Setelah 6 tahun bersama di SD, mereka menginjak ke SMP. Seperti biasanya, mereka memilih sekolah yang sama, kelas bersama, dan ekskul yang bersama-sama mereka bertiga suka. Di sini mereka mulai mengenal bagaimana indahnya melihat lawan jenis mereka, mereka bertiga memiliki pilihan yang berbeda-beda. Arman selalu suka wanita yang sholeh, baik hati, pintar, cantik luarnya, maupun dalamnya. Lain halnya dengan Dani yang menyukai wanita yang seksi, popular di sekolah, dan kaya raya tentunya. Berbeda lagi dengan Ardi, yang menyukai wanita yang dingin, cuek,jutek dan bikin penasaran hatinya.
Ketiganya memiliki perbedaan tipe satu sama lain. Dua bulan tidak terasa mereka hanya sibuk dengan idaman wanitanya itu tanpa menyadari mereka telah berpisah bersama dengan sahabat-sahabat mereka sendiri. Setelah mereka bertiga sadar kalau waktunya itu hanya terbuang oleh kenafsuan mereka sendiri dengan mengejar-ngejar pujaan hatinya, mereka pun kembali bersama-sama, main bersama, ng-band bersama, dan telah sepakat membantu satu sama lain untuk menaklukan masing-masing pujaan atau dambaan hatinya.
Taktik mereka bertiga pun berhasil menaklukan hati belahan jiwa mereka. Sangat berbahagialah dengan pasangan masing-masing dengan susah payah berupaya mendekati sang wanita-wanita itu. Tetapi perasaan mereka tidak berlangsung lama, setelah akan menghadapi ujian.
Konsentrasi terhadap pelajaran adalah satu-satunya kunci keberhasilan  dalam Ujian Nasional. Mengisi kekosongan dengan saling sering terhadap pelajaran adalah pekerjaan yang sedang ditekuni oleh mereka bertiga. Dan pada sampai waktunya, mereka berhasil mengerjakan soal-soal tanpa beban, karena otak mereka yang cerdas.
Lulus dengan nilai hasil memuaskan adalah tujuan mereka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Libur panjang telah menanti, mereka berpikir untuk pergi berlibur ke pantai bersama untuk berekreasi sesaat, setelah otak mereka di pekerjakan terus-menerus hingga batas akhir. Disana Arman, Dani, dan Ardi bersenang senang. Ketika di pantai yang indah, mereka mengungkapkan mimpi-mimpi yang sama dirasakan oleh ketiga insan manusia itu.
“Setelah dewasa nanti, aku ingin sekali membangun perusahaan yang besar, hingga masa kejayaannnya.” ,ungkap Dani. “Aku ingin sekali mempunyai pondok pesantren Al-Qur’an yang besar pula, karena aku ingin lebih mendekati Allah dan lebih bertawakal kepadanya.” ,ungkap Arman. “Tetapi aku juga mempunyai mimpi sama seperti kalian, aku ingin mempunyai rumah sakit yang besar dan aku yang sebagai pemimpin rumah sakit itu.”,ungkap Ardi.
“Amin-amin mudah-mudahan impian kita tercapai, tapi ada satu hal yang harus kalian ketahui.” kata Dani. “ Apa itu?” ,(Tanya Arman dan Ardi). “Kalian berdua harus membantu perusahaanku sampai memuncak kejayaannya nanti, tapi aku pun juga tetap memperbolehkan kalian berdua untuk menjalankan pekerjaan kalian masing-masing sambil membantu perusahaanku, karena tanpa kalian hidup itu terasa hampa. Disamping itu juga kalian mempunyai pekerjaan tambahan bukan dengan berpolitik bersamaku, bagaimana?” ,Dani mengungkapkan keinginannya seolah-olah dia yang paling mengatur hidup sahabat-sahabatnya sendiri.
“Oke juga idemu itu!” Arman setuju. “ Oke, bagaimana denganmu Ardi?” ,Tanya Dani. “Aku ikut kalian saja!”(setuju Ardi). “ Oke fine semuanya.” ,ujar Dani bahagia.
Setelah beberapa tahun kemudian, impian mereka pun terkabulkan. Dani mempunyai perusahaan sendiri. Arman memiliki pondok pesantren yang cukup terkenal, begitu pula dengan Ardi yang berhasil memiliki rumah sakit besar yang dipimpinnya sendiri. Ardi dan Arman pun tidak lupa dengan janji-janji mereka terhadapa Dani yang akan membantunya dengan terus mencapai masa kejayaan perusahaannya.
Sampai pada masa kejayaan Dani, mereka merayakannya dengan menikah bersama dengan pasangan yang mereka pilih sesuai dengan criteria masing-masing. Tetapi Arman setelah menikah nanti, dia akan berbulan madu di Mesir dan akan hidup bersama istrinya disana, dan entah kapan pulang ke Indonesia karena ada pekerjaan yang memakan waktu cukup lama sekali yang memaksanya untuk bekerja disana.
Setelah Arman pergi dengan rasa sedih di dalam hati Dani dan Ardi. Meskipun Arman tidak sanggup untuk meninggalkan kedua sahabatnya itu, tetapi dia tetap harus pergi demi menyambung karirnya. Ardi dan Dani pun harus melepas kepergiannya.
Satu tahun tidak terasa kepergian Arman begitu cepat, istri Dani dan Arman melahirkan secara bersama-sama, Begitu pula istri Arman melahirkan putri pertamanya yang diberi nama Nayla An-Nur Sadiyah. Melahirkan di Negara Mesir tanpa memberi tahu kedua sahabatnya, karena urusan pekerjaan yang menumpuk dan memaksa Arman untuk bekerja keras.
Istri Dani melahirkan putra pertamanya yang diberi nama Ihsan Firdaus. Dan istri Ardi melahirkan putri pertama mereka yang diberi nama Arrisa Nur Fadhilah.
Tapi kebahagiaan itu tidak seabadi mungkin, masalah-demi masalah bertubi-tubi, rumah sakit besar milik Ardi bangkrut karena ada yang mengkhianatinya. Dia sangat bingung untuk menyambung hidupnya, dia berusaha menghubungi Arman untuk memberikan pekerjaan tambahan untuknya, tapi tidak berhasil. Karena Arman sangatlah sibuk dengan pekerjaannya, belum lagi tekanan batin yang diberikan oleh Dani, karena Ardi tidak bekerja dengan baik untuknya.
Sampai pada titik kebingungannya, tanpa pikir panjang, akhirnya Ardi mengambil alih seluruh angket perusahaan milik Dani, tanpa sadar kalau Dani adalah sahabatnya terbaik dari dulu.
Dani pun merasa aneh, karena lama-kelamaan orang-orang di kantor mulai beda dan aneh kepadanya. Setelah mengetahui sebenarnya, dia sangatlah marah, nafsunya memuncak. Kemudian Dani mengajak Ardi untuk berbicara atau menjelaskan langsung di sebuah caffe yang sepi untuk mengatasinya dengan otak yang dingin.
Tibalah mereka berdua di sebuah caffe yang dituju. Memesan makanan dan mulai berbincang dengan serius. “Oke sekarang jelaskan, kenapa angket-angketku atau hasil-hasil jerih payahku tidak sampai kepada tanganku sendiri, dan mengapa orang-orang kantor terasa beda terhadapku?” ,tanya Dani dengan nada tinggi dengan emosi. ” Maaf Dan, sebenarnya aku bingung harus bagaimana, rumah sakit yang telah jerih payah di bangun olehku, hangus semua karena perbuatan orang yang selama ini aku percaya. Aku telah menghubungi Arman untuk memberikan pekerjaan tambahan padakau, tapi hasilnya sia-sia, aku bingung harus bagaimana lagi, atasanku ini memperlakukan aku seperti binatang, sering membentakku, menghina, mencaci maki, karena pekerjaanku yang selama ini tidak becus karena masalah yang dating terhadapaku. Atasanku ini juga tidak sadar, kalau yang dibentak-bentaknya itu adalah sahabatnya sendiri (tertuju pada Dani). Jadi terpaksa karena kesakitan hatiku, aku merebut semua angket-angketmu dan hasil jerih payahmu untuk melangsungkan hidupku!” ,ungkap Ardi dengan nada puas.
“Dasarrrr kau penjahat sialaaannn…aku selama ini membentakmu, dan sering menghinamu, itu karena kesalahan kau sendiri yang selalu tidak bisa becus dalam pekerjaanmu! Aku tidak lupa kau brengsek adalah sahabatku!” ,bentak Dani.
“Benar, aku memang tidak becus dalam pekerjaanku, karena kau tidak tahu apa yang melatar belakangi aku menjadi seperti ini!!!kau hanya memikirkan diri sendiri,tanpa memikirkan keadaanku sekarang!” ,seru Ardi.
“Lancang kau telah berbicara seperti itu!” ,tanpa sadar, Dani mengambil pisau yang disediakan untuk makan, dia menusukkannya ke dalam perut Ardi. “Terimakasih atas pembalasanmu selama ini Dani, ini adalah hadiah terbesar yang telah kau lakukan kepadaku selama ini!” ,jelas Ardi dalam keaadaan sakit. Kemudian Dani sadar apa yang telah dilakukannya itu sangat-sangat melampaui batas. Dia langsung kabur lewat jendela dengan rasa bersalah.
Pelayan yang ada di caffe itu pun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi lama-kelamaan para pelayan pun curiga dengan apa yang telah terjadi di ruangan itu sampai suara mereka terdengar keras-keras tidak ada yang mau mengalah kemudian sunyi tanpa ada siapapun. Salah satu pelayan mendobrak pintu itu, pintu itu terbuka, semua orang yang berada di situ semuanya kaget. Mereka semua hanya melihat orang yang tidak bernyawa dengan darah yang berceceran di atas lantai.
Pelayan di caffe itu langsung membawanya ke UGD dan memberitahukan pihak keluarganya untuk mengetahuinya. Tapi nyawa Ardi tidak terselamatkan, sampai hembusan nafas terakhirnya di dalam dekapan sang istri dan putrinya Arrisa. “Ayah!kenapa Ayah meninggalkan kami begitu cepatttt!siapa yang melakukan semua ini Ayah siapa???” ,tangisan Arrisa tidak tertahankan. “Sabar putriku, sahabat Ayah”. perkataan terakhir Ardi. “Jangannnnnn Ayahhhhhhhh jangannnnnn”. Seketika itu Ardi menutupkan mata untuk yang terakhir kalinya.
Sementara itu, dani dan keluarganya segera bergegas meninggalkan Indonesia agar tidak bisa tertangkap oleh pihak kepolisian. Keluarga Dani pindah ke Amerika tanpa di ketahui oleh siapapun. Dengan dihantui rasa bersalah, karena telah melenyapkan salah satu raganya sendiri.
10 tahun kemudian setelah lamanaya Ardi meninggal, Arrisa tumbuh cantik dan dewasa, dan ketika itu juga keluarga Arman pulang ke Indonesia. Nayla pun tumbuh cantik dewasa. Arrisa segera menceritakan semua yang terjadi kepada keluarganya. Arman pun sedih dan merasa bersalah setelah berapa tahun lamanya tidak memberi kabar kepada sahabat-sahabatnya. Ia sangat menyesal, dan langsung ke makam Ardi pada waktu itu juga. Arman memutuskan untuk tinggal di Indonesia untuk selamanya.
Dani pulang bersama keluarganya, tapi mereka diam-diam dan tidak ada kabar yang diketahui oleh Arman atau pun Arrisa. Ihsan tumbuh dewasa dan tampan, layaknya pemain film. Dia membangun perusahaan mulai dari nol, untuk meneruskan kelangsungan hidup keluarganya, karena ayahnya sudah tidak mampu untuk bekerja, karena penyakit yang datang bertubi-tubi menusuk badannya, karena hidupnya yang tidak selalu tenang, dihantui rasa bersalah.
Perusahaan Ihsan sukses dan mencapai masa kejayaan, dia mulai menyukai seorang wanita di kantornya. Wajahnya yang cantik, pintar, cerdas, shaleh itu tiada kata yaitu Nayla, anak dari sahabat ayahnya sendiri. Begitupun dengan Nayla yang tertarik dengan sang atasannya itu.
Akhirnya mereka berpacaran, dan berlangsung lama. Nayla tidak pernah bercerita kepada Arrisa identitas kekasihnya itu, karena dianggap malu mengakuinya, Nayla yang lulusan Mesir bisa berpacaran tanpa langsung menghitbahnya dan tidak mau kalau Ihsan direbut Arrisa, karena dia lebih cantik daripadanya. Tiap kali Arrisa menanyakannya, Nayla terus saja menghindari pertanyaan sahabatnya itu. “Apakah kamu sudah punya pacar?kalau sudah kok aku selalu gak di kasih tahu si Nay?” ,Tanya Arrisa.“Bukan maksud begitu Riss, aku hanya dekat saja dengan dia tidak lebih.” ,jawab Nayla. Dia tidak pernah mengakui keberadaan Ihsan kepada Arrisa. Berulang-ulang kali Arrisa menanyakan semua itu, tapi Nayla selalu saja menghindari pertanyaannya. Padahal Arrisa sendiri tidak akan memarahinya, kalau seandainya dia punya pacar, dia hanya ingin sahabatnya sendiri selalu bercerita tentang keadaannya yang selalu berbunga-bunga.
Sampai pada akhirnya Nayla bosan dengan pertanyaan yang dilontarkan Arrisa, dia pun menjawab tetapi tidak sepenuhnya menjawab. “Nay, ayolahhh aku merasa tidak dianggap olehmu, sebagai sahabat, harusnya kamu selalu terbuka kepadaku, bukan malah menghindariku, kita kan sudah bersahabat lama sekali. Masa masalah beginian kamu tidak mau cerita?” ,Tanya Arrisa dengan sangat penasaran.“Oke-oke aku akan memberitahumu, tapi pas detik-detik aku menikah nanti dengannya, maksudku tunangan yang akan datang, kamu harus datang ya!” ,ajak Nayla.“ Iya baik-baik aku akan datang tepat waktu.” ,seru Arrisa. Setelah dua-duanya saling sepakat,  1 tahun kemudian acara pertunanagan itu berlangsung dengan meriah, dengan acara islami tentunya.
Banyak sekali orang-orang kantoran dan pesantren yang datang, seketika itu Nayla akan memperkenalkan Ihsan kepada Arrisa. “Ass, Riss…perkenalkan ini Ihsan pria yang akan menyuntingku nanti” , kata Nayla .“ Wa’alaikumsalam Sohib, subhanallah, kenapa tidak dari dulu saja kau memperkenalkannya kepadaku.” ,seru Arrisa. “Wah…wah jadi selama ini kamu menyembunyikan aku ya dari sahabatmu sendiri.” ,kata Ihsan. “Surprise, inilah kejutan sayang, ini kejutan untukmu belahan jiwaku dan untukmu Riss ragaku” ,jawab Nayla dengan gembira.“Terimakasihhh”. Kompak Arrisa dan Ihsan.
Tapi suasana menjadi ricuh, ketika ayah Ihsan datang bersama istrinya. Terjadilah pertengkaran disitu.
“ Kau…..kau yang telah membunuh ayahku, dasar manusia tidak punya hati, berani-beraninya kau akan mempernikahkan anakmu bersama sahabatku” ,bentak Arrisa. Dan seketika itu Arman dan istrinya datang dan terkejut dengan perasaan bersalah mereka karena tidak pernah bercerita kalau yang akan menikah dengan putrinya itu adalah anak yang ayahnya telah membunuh Arrisa. “ Maafkan Om Riss, om merasa bersalah dengan kejadian yang dulu, waktu itu om emosi kepada ayahmu.” ,sesal Dani.“Kalau merasa bersalah sekarang juga om datang ke kantor polisi dan akui semua kesalahanmu.” ,bentak Arrisa.“Om tidak bisa Riss, ampuni om, jangan kau membatalkan pernikahan anak kami.” Permohonan Dani. “Iya Riss, om juga minta maaf, karena tidak memberi tahumu, kalau yang akan ditikahkan itu adalah Nayla dan Ihsan” ,seru Arman.
“ Kenapa om sejahat ini kepadaku, padahal om tahu kalau dia adalah yang membunuh ayahku”. “Maaf Arrisa, manusia juga pernah khilaf, jadi kamu harus berbesar hati untuk memaafkannya.” ,jawab Dani. “Dan kamu, kamu tidak sadar diri siapa kamu sebernarnya apa?!!!anak dari seorang pembunuh yang TIDAK TAHU DIRI!!!.” ,bentak Arrisa. Suasana menjadi sepi, sunyi, Nayla tertegun bingung dengan semuanya, karena  hanya dia yang tidak mengetahui masalah ini. Ketika itu, Arrisa menghampirinya dengan emosi, “sekarang kamu akan pilih siapa? Aku atau anak dari si bajingan itu?” Tanya Arrisa.“ Ini pilihan yang sangat berat bagiku, diantara belahan jiwa dan raga, aku harus memilih, tolonglah Riss…jangan begitu kepadaku, aku sangat menyayangimu, dan aku juga sangat mencintai Ihsan. Tolong kamu mengerti sedikit, aku tidak akan mungkin meninggalkanmu dan tidak akan juga meninggalkan dia, kamu harus memaafkan semua kesalahan yang dulu, yang terjadi kepada ayahmu.” ,jawab Nayla.“ Oke terimakasih Nay, terimakasih atas pilihanmu itu, aku tahu, kau tidak akan pernah memilihku, sia-sia aku telah mempercayaimu selama ini, tidak ada harnganya persahabatan kita ini. AKU TIDAK AKAN PERNAH MERESTUIMU!!! Mulai dari sekarang kau jangan pernah mengakui adanya aku dalam kehidupanmu, jangan pernah berharap lagi kau melihatku.” ,bentak Arrisa. Itu adalah perkataan terakhir dari Arrisa kepadanya, dia pergi dengan tangisan yang sangat luar biasa, Arman berusaha mencegahnya, tapi tidak berhasil.
Ihsan, diam seketika, dia sakit hati dengan perkataan Arrisa, karena dia benar-benar merasa malu dan bersalah atas perbuatan ayahnya itu, Kemudian dia menghampiri Nayla, yang telah memlihnya dari kejadian tadi. “Nay, kenapa kamu tidak mengejar sahabatmu tadi?” ,kata Ihsan. “Aku tidak bisa, aku sangat mencintaimu.” Jawab Nayla. “Tapi menurutku perkataan sahabatmu tadi ada benarnya juga, kau tidak sepantasnya memilihku, aku hanya anak dari seorang pembunuh, kau tidak pantas denganku, maafkan aku, aku tidak bisa menikahimu, karena tanpa restu dari orang yang telah di dzolimi oleh ayahku, rumah tangga kita tidaka akan kekal, maafkan aku. AKU SANGAT MENCINTAIMU, MAAFKAN AKU!” ,seru Ihsan. “ Tidakkkkk, kau tidak boleh meninggalkan aku Ihsan, kau tidak boleh begitu!!!” ,teriak Nayla. Ihsan tidak menghiraukan  sedikitpun perkataan yang disampaikan Nayla. Setelah Nayla berusaha mengejarnya, tetapi tidak berhasil, Ihsan lenyap dalam kegelapan malam. Nayla berlari dengan tangisan dan perasaan bersalah yang sangat luar biasa. Dia menyesal dengan sikapnya yang sangat-sangat salah.
Danipun tidak tahan dengan perasaan bersalahnya, dia menyerahkan diri ke kantor polisi. Arman berusaha terus mencari Arrisa dan ibunya, Nayla dalam hari-harinya yang penuh kesedihan terus berlanjut, dan Ihsan yang menghilang itu, tidak ada kabar sama sekali.
Dua bulan kemudian, Nayla mendapatkan surat dari Arrisa secara to do point dan berupa puisi:

Persembahan manis untuk sahabatku tersayang:
“Dalam duka kau adalah penghibur yang sejati….
Dalam sepi kau adalah teman yang setia….
Dalam letih kau adalah semangat yang menguatkan…
Dalam rindu kau adalah muara yang bertepi….”
Terimakasih sahabatku, telah memberi hadiah istimewa kepadakau, dengan besarnya kekecewaanku, inilah hadiah untukmu dengan kepergianku….
Arrissa….
            Nayla menagis dengan saat histeris, ditempat itu juga Nayla mendapatkan kabar dari Arman, kalau Arrisa sudah tidak ada di dunia ini lagi. Karena kesakitan hati Arrisa, yang telah di sakiti oleh sahabatnya sendiri, dia memutuskan untuk meninggalkan semua penderitaannya itu, dengan mati yang sangat menggenaskan. Di makam Arrisa, Nayla benar-benar sadar, kalau sekarang raganya itu telah benar-benar tiada. “Terimakasih atas semua nasehat, saran, dan semua kesan-kesan bersamamu kawan, aku tidak akan pernah mensia-siakan ragaku lagi, aku berjanji…tidak akan memilih tanpa berpikir dua kali, untukmu ragaku.” ,ucap Nayla sambil meremas-remas tanah makam dan kemudian mencium padung Arrisa. “Sudahlah nak, kita ambil hikmahnya saja dari semua kejadian ini.” Seru Arman.
            Satu tahun kemudian, setelah kepergian Arrisa, dan Ihsan yang tidak pernah lagi kembali, akhirnya Nayla menyadari semua kesalahannya, bahwa sesuatu yang benar-benar berharga, bukanlah menjadi pilihan yang sangat enteng. Dia konsentrasi dengan mewujudkan cita-citanya tanpa memikirkan cinta, Arman bersama istrinya pulang kembali ke Mesir untuk menenangkan kembali kondisinya, Ihsan tidak pernah muncul kembali, Dani tinggal di penjara untuk selama-lamanya, dan istrinya terkena penyakit yang sangat memprihatinkan, Ibu Arrisa menenangkan diri dengan pulang kampung ke rumah ibunya yang ada di Tasikmalaya, setelah semua kejadian tragis yang menimpa dirinya setelah kehilangan Ardi suami tercintanya dan Arrisa putrinya.

Nidia Siti Fatimah###
Pelangi Terindah

Felicia menggoreskan goresan terakhir kuasnya ke kanvas. Dia terus berlatih karena 3 bulan lagi dia akan mengikuti lomba melukis. “Hmm, pelangi yang aneh.” gumamnya.
“Kenapa sayang? Mama lihat akhir-akhir ini kamu down melukis?”
“Nggak apa-apa, Ma,” jawabnya dengan malas.
“Ayolah, cerita sama Mama.” kata Mamanya sambil mengelus-elus kepala Feli.
“Aku kangen Nico, Ma,” Feli menunduk.
“Sabarlah, dia pasti pulang. Mama yakin dia juga kangen sama kamu. Kamu mau telepon dia?”
Feli mulai menangis. Dia teringat masa-masa kecilnya yang dia habiskan dengan bermain bersama Nico yang sekarang melanjutkan sekolah di Australia. Papanya adalah seorang pelukis yang membimbing Feli melukis sejak kecil.
“Ma, bisa nggak kita menyusul Nico ke Australia? Mungkin Tante Nico akan mengizinkan kita untuk menginap disana untuk beberapa hari?” ujar Feli di sela-sela air matanya. Dia sangat kehilangan Nico. Nico sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri. Nico yang selalu mendengarkan curahan hatinya, Nico pula yang selalu menemani kemana pun ia pergi.
Mama tersenyum, “Nggak semudah itu. Kita tunggu aja Nico pulang, ya. Sebentar lagi dia pasti pulang, tinggal kamu yang harus bersabar.” kata Mama, langsung memeluk Feli yang manja.
“Tapi Feli pingin ketemu Nico, Ma! Nico janji dia akan pulang setahun sekali, tapi mana buktinya? Ini udah tahun ke-3 dia nggak pulang, Ma. Feli kangen banget sama dia, Ma. Atau mungkin, dia sudah ada teman dekat yang baru, dia bisa lupain Feli gitu aja, Ma? Feli nggak rela! Dia itu sahabat terbaik Feli..” kata Feli tersedu-sedu.
“Iya sayang, Mama ngerti. Tapi..,”
“Ok. Feli benci Nico! Nico jahat! Feli nggak mau ketemu dia lagi!” teriak Feli. Dia berlari ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya. Ia menangis sekuat-kuatnya di tempat tidur. Ia tidak bisa menepati ucapannya pada Mamanya untuk membenci Nico. Ia teringat Nico. Ia sangat kehilangan Nico dan selalu mengharapkan Nico pulang. Dia menangis sampai akhirnya terlelap.
 “Feli, bangun sayang. Sudah jam setengah 7, kamu mau sekolah nggak?” Mamanya mengetuk pintu kamar Feli.
Feli menggeliat sambil meraih weker di meja samping tempat tidurnya. “Oh, tidak. Aku kesiangan!” gumamnya. Ia melompat dari tempat tidur, “Iya, Ma! Sebentar! Feli mandi dulu!” teriaknya.
Ia mandi dengan tergesa-gesa dan menyambar roti untuk dimakan selama perjalanan ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, dia berlari menuju kelas dan, “Bruukk..” ia menabrak Ray yang sedang mengelus-elus pipinya yang merah.
“Hehehe, sorry Ray, aku kesiangan. Gurunya sudah datang?” Feli bicara sambil ngos-ngosan. Ray hanya mengerutkan keningnya sambil terus mengelus pipinya. “Raayy! Kamu denger nggak, sih? Eh, pipimu kenapa? Kok, merah? Dicium, ya? Atau..” Feli nyerocos, tidak sabar menunggu jawaban dari Ray.
“Plakk!” Feli menampar pipi Ray yang malang. Ray menjerit. “Aww!”
“Hehe, aku tahu! Selamat ulang tahun!” ucap Feli sambil merebut tangan Ray dan menjabatnya. Ray melengos. “Mana kadonya?” Feli bengong.
“Oh, ada.” Senyum Ray pun mengembang. “Mana?” tanya Ray.
“Di toko! Hahaha.” jawab Feli sekenanya sambil menampar pipi Ray untuk yang ke-2 kalinya dan langsung berlari ke kelas.
“Aku akan membunuhmu untuk tamparanmu, Felicia!” teriak Ray dan mengelus lagi pipinya yang malang, tetapi ia tersenyum senang.
Sepulang sekolah, Feli membawa kue untuk Ray. Ia merayakan ulang tahun Ray di sekolah karena Ray tidak pernah mau memberi tahu dimana rumahnya.
Setelah meniup lilin, “Tiuit.., tiuit..!” ponsel Feli berbunyi.
“Halo?”
“Felicia! Aku udah di Jakarta. Sekarang lagi di perjalanan ke galeri Papa. Aku tunggu kamu disana,ya!”
Felicia bengong. Senyumnya mulai tampak. “Oh. I..ini, Nico?” senyumnya makin melebar.
“Iya, aku Nico, sayang.”
Felicia sangat senang bisa mendengar suara Nico lagi. Itu berarti Nico masih ingat kepada Feli. Saking senangnya, dia sampai gugup berbicara dengan Nico. “Haa? Eh, I..Iya..iya. Aku kesana sekarang. Kebetulan aku masih di sekolah. Paling jalan kaki juga sampai.”
“Ok, honey. Jangan lama-lama. Aku cuma punya waktu sebentar. Miss you!”
“Iya. Miss you too.” Jawab Feli riang.
Feli pun pamit pada Ray. Ray dengan berat hati membiarkan Feli pergi. Ray memang menyukai Feli sejak setahun yang lalu, pada masa MOS SMA. Ia pun hanya pasrah memandang kepergian Feli. Ia sangat kecewa karena Feli lebih memilih Nico daripada acara ulang tahunnya Ray.
Sementara itu, Felicia berjalan sambil melompat-lompat gembira. Hampir setengah jalan ditempuhnya, Feli menyebrang sebuah tikungan dan akhirnya…
“Braaakkk…!!” Sebuah mobil sedan kuning menghantam tubuh Feli sampai ia terpelanting beberapa meter. “Criiiittt!!” Rem mobil itu sempat berbunyi namun terlambat. Felicia sudah tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah di jalan sunyi itu sementara mobil yang menabraknya kabur.
Sementara Nico yang sibuk berbicara pada mailbox Feli sangat khawatir akan keadaan Feli. Ia tidak mempunyai banyak waktu dan akhirnya pergi ke Makassar tanpa bertemu dengan Feli yang sekarang tidak sadarkan diri di rumah sakit. Nico sangat marah dan kecewa. “Gue ke Jakarta cuma ingin ketemu lo, sebentar aja. Tapi ternyata nggak ada gunanya.”
Setelah 2 hari di rumah sakit, Feli belum kunjung sadar. Ia mengalami luka serius di kening dan pelipisnya. Mama dan kakaknya tidak bisa berhenti menangis mendengar apa yang dikatakan dokter.
Wandy, kakak Feli, dengan setia menunggu Feli sejak 3 hari yang lalu. Kini giliran Ray yang menjaga Feli di rumah sakit karena Wandy harus ujian di kampusnya. Tak kunjung lama Felicia pun sadar, “Nico..Ni..Nico..” hanya itu kata pertama yang terlontar dari mulut Feli saat ia tersadar. Mendengar itu, Ray kecewa. Ia sangat marah pada Nico karena hanya untuk bertemu dengan Nico, gadis yang dicintainya harus mengalami musibah seperti ini.
Dua bulan kemudian, Felicia sudah bisa kembali sekolah lagi meskipun dia berjalan dengan bantuan kursi roda. Dia sibuk meminjam buku catatan teman-temannya karena dia sudah banyak tertinggal pelajaran dan 1 bulan lagi lomba melukis itu berlangsung. Meskipun dengan kondisi yang tidak sehat, Feli terus berusaha mengikuti lomba itu.
Felicia mulai teringat Nico. Dia sudah tidak menepati janjinya untuk datang ke galeri lukisan papanya. Dia terus menghubungi ponsel Nico, tapi tak sekalipun panggilan itu tersambung, yang ia dengar hanya suara robot mailbox.
Besoknya, Felicia mencari-cari Ray yang tidak pernah terlihat lagi batang hidungnya sejak kecelakaan itu. Felicia khawatir akan keadaan Ray, ia pun menelepon Ray untuk memastikan bahwa Ray baik-baik saja, tetapi berita yang ia dengar dari orang tua Ray hampir saja membuat ia pingsan. “Ray kabur, ia sangat khawatir padamu, dia sempat meminum racun serangga. Dan sekarang dia dipenjara karena kasus narkoba sejak sebulan yang lalu.” begitu kata Papa Ray. Ternyata ia sangat terpukul dengan kecelakaan yang menimpa Felicia.
Felicia sangat merasa bersalah mendengar berita itu. Dia pun mengunjungi Ray sebentar dan setelah itu dia pulang. Dia menceritakan semuanya pada mamanya. Feli tahu sekarang bahwa Ray sangat mencintainya. Tapi Feli masih tidak bisa melupakan Nico. “Mungkin Nico adalah cinta pertamanya.” bisik Wandy kepada mama Feli.
Akhirnya, besok adalah lomba melukis. Lomba yang membuat Felicia sangat giat berlatih. Dia menyiapkan alat melukisnya tetapi kuasnya hilang. Dia mencari di seluruh sudut kamarnya. “Kuasku sayang, sini donk!” Feli bergumam sambil melongok ke kolong tempat tidur. Dan di saat itu lah keganjilan terjadi, pandangan Feli kabur dan semakin gelap. Ia tidak bisa lagi melihat kuas yang dekat sekali dengan kakinya. Semakin gelap, dan ia pun pingsan.
Feli mencium bau yang jelas bukan bau kamarnya. Rumah sakit. Ia pun segera membuka matanya. “Ma.. Mama..lampunya dinyalain dong, Ma!” teriak Feli. Mamanya pun tersentak bangun. Ia buru-buru mencari saklar lampu. Tapi ia tersadar. Ia dan Papa Feli terbelalak melihat lampu yang masih menyala dengan terangnya di ruangan itu.
Mamanya memeluk Feli dan menangis. “Ini terjadi, nak. Lampunya masih menyala, sayang.” ucap Mamanya terisak.
Feli gelagapan, “Feli nggak bisa lihat apa-apa, Ma, Pa!” katanya ketakutan. “Dokter bilang apa?” desak Feli. Mama dan Papanya diam seribu bahasa.
Feli mengerti, “Kecelakaan…” gumamnya.
“Iya, nak. Benturan itu melukai syaraf mata dan korneamu.”
“Mata? Jadi.. Feli buta?” Tatapannya kosong karena memang tidak ada apa pun yang bisa ia lihat. Air mata mulai mengucur dari pelupuk matanya.
“Feli buta.. Feli buta..” kata itu terus diulang-ulang olehnya. Dia masih tidak percaya. Dia buta.
Sementara itu, Ray yang baru saja mendengar berita bahwa Feli buta, langsung mengajukan untuk memberikan kornea matanya untuk Feli. Ia rela menjalani sisa hidupnya tanpa bisa melihat lagi. Demi Felicia. Tetapi semua menolaknya, karena hanya kornea mata orang yang sudah meninggal yang biasanya didonorkan, itu pun harus dengan persetujuan keluarga. Ray sangat kecewa. Ia sangat ingin melakukan sesuatu untuk Feli, Tapi ia tidak tahu bagaimana.
Sejak itu, Feli memutuskan untuk berhenti sekolah. Ia senang karena temannya yang menggantikannya melukis di lomba tempo hari itu menang.
Ray bebas dan langsung ke rumah Feli, lalu ia pulang ke rumahnya. Di depan rumah, ia kaget karena sebuah mobil kuning mewah hampir menyerempet tubuhnya. Anehnya, mobil itu masuk ke rumah Ray.
Turunlah seorang pemuda tampan yang berpakaian rapi. Lalu Papa Ray menyambutnya hangat dengan sebutan ‘nak’. Ray cemburu, dia tidak pernah mendapat perlakuan sehangat itu dari Papanya sendiri. Ia mengerti, pasti pemuda itu anak dari istri kedua Papanya yang akan kuliah di Indonesia.
Di belahan bumi lainnya, Felicia menangis di kamarnya. Tetapi ia tidak ingin mengumbar kesedihannya pada orang lain. Ia selalu melapisi kesedihan itu dengan senyuman. Senyuman penderitaan.
Felicia teringat akan hobinya melukis. Ia mencoba untuk melukis lagi, walaupun hasilnya abstrak sekalipun ia tidak peduli. “Melukis itu menggunakan hati.” gumamnya.
Tak lama kemudian, ia merasa ada yang menepuk pundaknya. Ia mencium wangi yang tidak asing lagi di hidungnya. Wangi yang mengingatkan ia pada masa kecilnya yang sangat manis.
Seseorang itu langsung memeluk Feli dengan erat. Feli pun tersentak, tapi ia membalas pelukannya, “Ni..Nico?” tanyanya. Ia tak kuat menahan tangis. “Ini bukan mimpi, kan?” tanyanya tak percaya.
Nico membelainya dengan penuh haru. “Aku kangen banget sama kamu, sayang.” keduanya mempererat pelukan mereka.
“Aku lebih dari itu. Bertahun-tahun aku nunggu kamu pulang.” jelas Feli.
Nico tersentak lalu melepaskan pelukannya, “Aku juga nunggu kamu di galeri. Aku kecewa kamu nggak datang waktu itu.”
“Maaf.” kata Feli. Nico mengerutkan keningnya, “Ya.”
“Aku kecelakaan.” ujar Feli lemah. Nico kaget bukan main, “Apa? Kecelakaan?”
“Iya, aku pingsan waktu itu. Setelah sadar, aku berusaha menghubungi kamu, tapi nomormu nggak pernah aktif lagi.”
Nico masih tak percaya, ternyata kemarahannya waktu itu hanya sebuah kesalahpahaman. Nico pun memeluknya. Lagi.
Nico memandang sekeliling kamar Feli yang penuh dengan lukisan. Banyak sekali lukisan pelangi, karena memang Feli sangat menyukai pelangi.
Nico memandang lukisan yang sejak tadi mengundang keheranannya. “Kamu lagi ngelukis apa, sayang?” tanyanya.
“Ha? Yang mana?”
Feli benar-benar tidak bisa melihat lukisan mana yang dibahas Nico yang jelas-jelas menunjuk ke arah lukisan yang tadi dilukisnya. Feli hanya menebak-nebak. “Oh.. Itu pelangi.” jawabnya polos.
“Hitam? Lagi sedih?”
Feli berpikir sejenak. “Nggak, kok. Lagi mau aja melukis pelangi hitam.” katanya asal. Padahal ia tidak tahu bahwa pelangi yang dilukisnya itu berwarna hitam.
Nico hanya mengangguk. Ia menarik tangan Feli berlari. Feli limbung. “Nico, berhenti!” teriaknya. Nico kaget dan berhenti.
Feli melembutkan suaranya, “Pelan-pelan aja, sayang.” katanya. Nico menurut, dia berjalan pelan, tetapi Feli malah mematung.
“Hei, kenapa malah diam?” tanya Nico. Feli mengulurkan tangannya. Nico pun tertawa dan menggandeng tangan Feli.
“Kayak orang buta aja kamu.” katanya.
Feli tersentak kaget. Jadi selama ini Nico tidak tahu bahwa ia buta.
Nico mandudukkan Feli di halaman rumah Feli dan menunjukkan sebuah pelangi pada Feli. Feli hanya bengong.
“Lukiskan pelangi itu untukku, sayang.” pinta Nico.
“Aku..aku.. nggak bisa..” katanya gemetar. Hatinya sakit. Dia tidak bisa memenuhi permintaan orang yang dicintainya. “Ayolah..” Nico menyelipkan sketch book dan kuas ke tangan Feli. Feli hanya mematung.
“Aku..aku nggak bisa melihat pelangi itu!” katanya mantap.Tangisnya pecah.
Nico heran, “Huh, percuma saja ayahku menurunkan bakat melukisnya padamu kalau melukis pelangi saja kamu nggak bisa.” ujar Nico kecewa.
Tangisnya semakin meledak, “Kamu nggak sadar. Aku nggak pernah lihat wajah kamu, Nico! Juga pelangi itu.. Aku ingin sekali melihat semuanya tapi aku nggak bisa!” teriaknya sambil terisak. Nico semakin bingung.
“Aku pernah menyinggung soal kecelakaan, kan? Andai saja aku lebih berhati-hati, pasti mobil kuning itu tidak akan menabrakku!” jelasnya. Nico tercengang. “Mobil kuning?” Ya, ia ingat bahwa 3 bulan lalu saat ia akan ke galeri papanya ia menabrak seorang gadis. Ia kabur karena dikejar waktu. Nico mendekap Felicia erat. Dia sangat menyesal.
Nico menyandar di mobil kuning di garasi rumahnya. “Andai aja gue tau itu loe, Felicia!” teriaknya penuh sesal. Ray yang menguping pembicaraan Feli dan Nico dan sudah berdiri didekatnya langsung menghajar Nico tanpa ampun.
“Ok. Gue bakal serahin Felicia buat lo. Tapi pesen gue cuma satu, bahagiain Feli.” katanya lemas.
3 bulan berlalu. Wandy bangun dan mendapati adiknya duduk di teras depan rumah. Tak lama Nico pun datang.
Nico membawa Feli ke sebuah tempat dimana tempat itu adalah tempat pertama kali mereka bertemu.
“Tempat ini rindu sama kamu Nico, sama dengan aku yang rindu sama kamu. Meskipun aku udah nggak bisa melihat wajah kamu.” ucapnya lemah.
Terbesit di benak Nico untuk mengatakan yang sebenarnya masalah kecelakaan itu. Tapi nyalinya tidak besar untuk membuat Felicia pingsan ditempat.
Esok paginya, Feli menerima telepon dari dokter yang merawatnya dulu bahwa ada pendonor kornea mata untuknya. Dia sangat senang. Itu artinya dia berkesempatan untuk melihat lagi.
Feli akan di operasi hari ini. Tangis keluarganya pecah saat ia akan di bawa suster ke ruangan operasi.
Setelah seminggu pasca operasi, akhirnya Feli bisa melihat lagi! “Nikmatnya hidup ini.” ujarnya riang. Dia meluncur dengan mobil Papanya. Felicia sangat berterimakasih kepada siapa pun malaikat yang telah menyumbangkan sepasang mata untuknya. Ia ingin membalas budi baik malaikat itu tetapi dokter bilang ia sudah meninggal sekarang.
Feli mencari-cari Ray dan mengunjungi rumah teman Ray. Feli sangat tersentak ketika mendapat kabar dari ibu temannya Ray bahwa Ray masuk penjara lagi karena kasus yang sama, narkoba. Setelah keluar dari rumah teman Ray itu, dia kaget melihat mobil kuning yang sangat tidak asing di matanya. Mobil yang membuat ia buta waktu itu dan mencuri cita-citanya untuk menjadi seorang pelukis yang hebat. Feli pun segera meluncur ke penjara untuk menanyakan hal ini kepada Ray tetapi Ray diam seribu bahasa. Ray depresi berat!
Dia pun pergi ke rumah Nico untuk mengabarkan penglihatannya itu. Tetapi yang ia lihat hanya sebuah foto. Dia kaget mendengar penjelasan bahwa Ray dan Nico itu saudara. Dia mencari-cari Nico tetapi yang ia dapat adalah sepucuk surat dari Nico untuknya. Dia pun pulang dengan kecewa.
Di suatu senja yang indah, ia menyelesaikan lukisannya.
I LOVE SYDNEY
Itulah lukisannya kali ini karena ia sedang berlibur di Australia. Dia menuliskan sesuatu di ujung lukisannya, “and I do love you, Nico!
Dia membuka amplop putih dan mengeluarkan dengan pelan dan hati-hati secarik kertas yang sudah lusuh karena banyaknya air mata yang tumpah diatasnya. Surat dari Nico.

Felicia sahabat kecilku,
AKu harap kamu bisa baca tulisan ini dengan matamu sendiri. Maafkan aku karena harus pamit dengan cara seperti ini. Aku nggak punya cukup keberanian untuk mengatakan kebenaran itu. Kamu adalah cinta pertamaku. Kamu yang bikin aku mengambil keputusan untuk pulang ke Indonesia.
Tapi, setelah aku melihatmu, kamu begitu menderita. Aku sedih. Apalagi setelah aku tahu bahwa penyebabnya adalah aku! Setiap kali aku melihat kamu, hatiku sakit banget. Aku nyesel! Karena aku yang melakukannya, aku membuat kamu kehilangan semangat hidup kamu, aku juga yang harus mengembalikan semuanya.
Maafkan aku, sayang. Aku udah bikin kamu nunggu. Dan maaf juga, karena aku baru sadar bahwa kamu itu benar-benar mencintaiku. Sekarang, kamu nggak usah nunggu siapa-siapa lagi karena aku akan selalu menemanimu disisimu. Dengan sepasang matamu itu, aku akan melihat apa yang kamu lihat dan merasakan apa yang kamu rasakan. Jadi kamu nggak usah bersedih lagi. Terima kasih Felicia, kamu udah jadi cinta pertama sekaligus cinta terakhir buatku. Aku mencintaimu.
                                                                                                Nico

“Nicoooo…..!!!” Felicia berteriak sekeras-kerasnya seolah dunia ini miliknya sendiri. Air mata meleleh di pipinya. “Nico telah pergi menemui Sang Pencipta, menukarkan hidupnya untuk menyaksikan tawa gadis yang dicintainya.” pikirnya. Senyumnya mengembang tak lama kemudian.
Felicia memulai lembaran baru dengan semangat yang menggebu. Tekadnya menjadi pelukis semakin kuat, demi Nico, cinta pertamanya.
“Nico, terima kasih banyak, sayang. Aku janji, aku akan terus mengejar cita-citaku, sesulit apapun itu! Aku nggak akan takut karena aku punya kamu didalam hatiku. Aku pasti akan jadi pelukis hebat!” teriaknya menantang langit. Feli yakin Nico mendengar teriakannya di alam sana, kerena itu dia begitu semangat.
Dia melihat sebuah pelangi di langit. Begitu jelas terlihat dari tempat dia berdiri. Dia pun mengambil sketch booknya dan tak lama kemudian kuas yang terselip di jarinya mulai menari-nari dia atas kanvasnya. Feli tersenyum riang seakan tak ada yang dapat menghapus senyum yang terukir diwajahnya untuk selamanya. Ia mulai tenggelam dalam dunianya. Melukis pelangi terindah sepanjang hidupnya.


Permata Putri R

0 komentar:

Poskan Komentar